“Orangtua kami pergi liburan 5 hari. Aku baru sadar, remote TV sekarang milikku sepenuhnya.” Hari ke-1: Euforia Kebebasan – Sarapan Mie dan TV 24 Jam Pagi pertama adalah momen paling glorious. Tidak ada suara “Roy, bangun! Subuh sudah lewat!” Jam menunjukkan pukul 10.30 ketika aku membuka mata. Rara sudah asyik menonton YouTube di ruang keluarga.
Kedengarannya menyenangkan? Tentu. Seperti liburan dari aturan. Tidak ada yang membangunkan jam 4 pagi untuk shalat subuh. Tidak ada omelan tentang “kamar berantakan” atau “kebanyakan main game.” Tapi, 5 hari atau 120 jam adalah waktu yang panjang. Cukup panjang untuk membuat seorang remaja menyadari betapa rapuhnya kemampuan bertahan hidupnya tanpa seorang ibu yang memasak atau ayah yang memperbaiki keran bocor. royd020 orangtua kami pergi liburan 5 hari aku
Aku menulis di buku harian digitalku, postingan under username royd020 : “Orangtua kami pergi liburan 5 hari. Aku kira ini tentang kebebasan. Ternyata, ini tentang bagaimana aku belajar kehilangan mereka sebelum benar-benar kehilangan.” Hari itu, aku memutuskan untuk membuat kejutan. Aku membersihkan seluruh rumah, mencuci sprei, menyiram tanaman, dan membeli kue kesukaan Ibu serta camilan kesukaan Ayah. Uang jajan yang selama ini kuhamburkan untuk game online aku sisihkan. Hari terakhir. Penerbangan orangtua pukul 14.00 WIB. Aku sudah bangun sejak pukul 6 pagi. Tidak disuruh. Tidak dibangunkan. Aku mengepel lantai satu kali lagi. Memastikan tidak ada setrika yang masih menyala. Memasukkan sampah ke tempat pembuangan akhir. “Orangtua kami pergi liburan 5 hari
Saat itulah aku menyadari tanggung jawab besar ini. Aku bukan hanya menjaga rumah, tapi juga seorang adik perempuan yang polos. Tapi, karena ini hari pertama, biarkanlah kebebasan mengalir. Subuh sudah lewat